You are currently browsing the category archive for the 'Puisi' category.

Hampa

Oleh: Rijal Kalong

untuk: Teater Hampa Indonesia

Hampa adalah hampa
Hampa bukanlah kekosongan
Bukan pula ketidakadaan

Hampa itu berisi
Satu jiwa dalam satu sisi
Dan tetap hidup dalam nurani

Hampa bukan apa
Karna hampa tak bernyawa
Hampa adalah jiwa
Jiwa yang terbakar dalam sebuah perjalanan

Hampa adalah kau
Yang hidup dalam arti sejati
Yang berjalan dalam menitik arti

30 Juli 2008

Sajak pada Sepi

Oleh: Rijal Kalong

Sepi tak akan bisa mengurungku
Sepi tak dapat memurungkanku

Sendiri tak dapat mematahkanku
Sendiri tak dapat mematikanku

Sekejam apapun kau datang menghampiri
Kan ku sambut kau dengan senyum ceria
Yang dengannya kau pasti akan sirna

Jiwaku adalah ceria
Meski ragaku bukan apa-apa

Jiwaku adalah semangat
Meski ragaku akan sekarat

29 Juli 2008

“katanya”

(untuk semua keluarga besar INDONESIA)

 karya: Bagus Adi Permana

 

Tetesan demi tetesan dari keran air yang mampet di kamar mandi

tak hentinya mengusik ketenangan yang baru saja kurasakan

Dasar sial memang..

sudah berhari-hari tak berhenti juga..

aku memang jarang memperhatikan itu

karena hari-hariku telah disibukkan oleh pemikiran tentang suatu tempat

tempat yang katanya penuh suka..

suka yang ada surganya…

itu ternyata hanya “katanya”…

Bodoh benar aku..

yang telah berkali-kali tertipu oleh “katanya”.

Katanya ada sebuah surga

surga tempat Zamrud Khatulistiwa

Zamrud Khatulistiwa….

lagi-lagi hanya “katanya”

memang aku ini buta sejarah.

tapi aku sempat percaya pada “katanya”

karena pernah kutemui puing-puing dari “katanya”

meskipun tak semua orang punya

yaitu puing-puing kejujuran.

 

                                                                        malang, 05 Juni 2008

Sejenak Malam Berlalu Tanpa Kejora

 karya: Bagus Adi Permana

 

Malam ini bulan tak tampak..

di langit juga hanya ada sebuah kejora

yang sinarnya tak mampu menembus pori-pori kulit

dan sedikit pucat ia tampaknya..

seperti ada kesedihan yang memburamkan wajahnya…..

Aku jadi ikut sedih melihatnya

tapi ada sedikit senyum dihatiku

karena seolah bintang itu mengerti akan sedihku pula

maka aku menganggap bintang itulah temanku

sebab ia sedih dikala aku sedih….

sungguh ia sangat setia….

 

Malam esoknya aku berlari ke teras rumah

kucari bintang yang telah menjadi teman hatiku

sejak Maghrib aku di sana

hingga suara jangkerik bersahutan

sebagai tanda malam telah sepi..

namun tak kutemukan bintang itu

padahal sedih yang kemarin belum sepenuhnya sembuh..

Hampir saja air mata menetes…

tapi aku tahan

dan terus kuperas otakku tentang absennya kejora malam ini..

hingga kudapatkan jawab entah darimana asalnya..

yang tiba-tiba menyadarkanku..

“keabadian adalah kasih ILLAHI, bukan kejora yang hanya terkadang indah”

 

                                                                                    malang,05 Juni 2008

HANYA SATU
Oleh: Romdan M. Rijal

meratap aku di kaki-Mu
dengan sebentuk bongkahan lara dihatiku
Hanya kasihmu lah yang kutuju
Melanjutkan hidup yang kutempuh

Tak satupun lain di angan dan hatiku
Ketika setetes embun menyentuhku
Hanya satu nama yang ada di hatiku
Ilahi robi..engkaulah Tuhanku

30/11/07

TIANG-TIANG LANGIT
Oleh: Rijal Kalong

Tertegun aku akan ketenangan masa lalu
Bisuku merindu kalbu
Terbayang masa lalu yang tak tersedu

Dibawah tiang-tiang langit itu aku mengadu
Kepada diriku yang tak lagi layu
Benarkah lamunan isyarat itu
Memang tertuju padaku

Ooh..
Hiasan itu menggelapkan anganku
Akan kepastian yang kutuju

Yang kutunggu kini hanya satu
Cerahan warna yang menerangkan langkahku

30/11/07

MENGAPA…???
Oleh: Rijal Kalong

Cobalah kau tanya kepada deruan angin yang terus menderai…
Pada lautan sunyi yang berkejar-kejaran…
Pada rumput liar yang terus menggoyangkan tubuhya…

Mengapa…???
Tak satupun angin berbisik padamu…
Tak satupun air laut memercikan airnya padamu…
Dan tak satupun rumput liar mengarahkan dan melambaikan tubuhnya padamu…

30/11/07

PEREMPUAN
Oleh: Rijal Kalong

Kepada Perempuan…
Yang dikala malam menjelang
Selalu menjadi pancaran sinar yang cemerlang

Kepada perempuan…
yang dikala malammu
Selalu ditemani kidung-kidung kesepian

Kepada Perempuan…
Yang selalu memberi luka
Dikala akhir masa perjalanamu

Kepada perempuan…
Dimana akhir perjalananmu
Yang selalu kau nanti dengan segala rintanganmu
Yang tiada kau akhiri perjalanannya

19/6/08

LANGKAH-LANGKAH
Oleh: Romdan M. RIjal

Langkah-langkah yang tertanam dalam tanah
Menghanyutkan keraguan tak berjiwa
Kicauan burung-burung tak berkepala
Tak runtuh akan kesendirian

Berbisik aku pada daun nan hijau
penyejuk sukma surgawi
Debaran langkah di tanah
Tak satupun mendebarkan pikiran

30/11/07

MAKNA BARU
Oleh: Bagus Adi Permana

semua tlah terjadi..
satu peristiwa penuh arti
akan hilangnya keangkuhan
yang selama ini bernaung dalam benak
cukuplah deru air mata
usah kita tampakkan lagi
tiada guna bermesraan dengan sedih
hanya kan tercipta goresan luka
inilah waktu kita menyeka semua sedih
harus kita hadirkan makna baru
dimana kita bisa tertawa kembali
dengan penuh kepuasan akan hidup

malang,071206